Anggota Fortamas LIPI
BANDUNG,SUBANG DAN KARANGSAMBUNG

Media ini merupakan alat promosi usaha anda, bila anda ingin bergabung silahkan kirim e-mail pada :

fortamas.lipi.bdg@gmail.com

Jumat, 04 Januari 2008


Warga Cilengkrang Kembangkan Akses Data Curah Hujan "On-line"

[BANDUNG] Warga Cilengkrang dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan akses data dari sensor curah hujan secara on-line. Hasil pengukuran dari alat produksi LIPI dengan standar World Meteorological Organization (WMO) ini bisa diakses lewat situs yang dikembangkan oleh komunitas warga RT05/RW13, Desa Jatiendah, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Jawa barat.

"Alamat situsnya www.rt-net-kapelima.com," kata Dhanang Widijawan, Ketua RT 05/RW 13, Desa Jatiendah, di Bandung, Kamis (27/12). Data curah hujan yang dihitung dengan alat tersebut dapat membantu Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengamati curah hujan secara langsung di daerahnya. Manfaat lainnya bisa diakses setiap waktu.

Kerja sama ini merupakan upaya dari empat pihak, LIPI, Kecamatan Cilengkrang, Politeknik Pos Indonesia, dan komunitas RT-Net-Kapelima.Com, yang mengembangkan jaringan internet di wilayah tempat tinggalnya.

Sugiono, juru bicara Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI mengatakan, kawasan tersebut dipilih sebagai tempat uji coba produknya karena sudah terakses dengan jaringan internet. "Sebelumnya, data-data curah hujan belum bisa diakses secara real time (langsung)," katanya.

Dengan adanya sensor curah hujan tersebut, pihak-pihak yang berkepentingan dapat mengetahui banyaknya curah hujan yang terjadi setiap waktu. Data curah hujan yang dihasilkan secara otomatis dari sensor tersebut bisa dikirimkan langsung secara on-line melalui jaringan internet.

LIPI sudah memasang alat serupa di Cirata, Bili-bili. Tapi, alat yang sudah terpasang itu masih menggunakan radio telemetring buatan Jepang. "Peranti lunaknya buatan Indonesia. Sekarang kami mengujicoba produk sendiri," kata Sugiono.

Dia berharap, akses data secara on-line ini bisa membantu lembaga seperti Departemen Pekerjaan Umum (PU) dan juga Departemen Pertanian.

Dicontohkan, bila curah hujan di satu daerah melebihi 50 milimeter per harinya maka Departemen PU bisa memperkirakan seperti apa level airnya di daerah tersebut. Untuk Departemen Pertanian, data curah hujan bisa membantu dalam penentuan jenis tanaman dan masa tanam yang paling baik. Ini memang harus jadi kerja sama terkait. Uji coba ini paling baik lima tahun untuk mengumpulkan datanya.

Kemampuan resapan air tanah, temperatur, kelembapan, dan angin bisa ditumpangkan pada alat ini. Sekarang baru mengukur curah hujan, katanya.

Keterlibatan komunitas RT-Net-Kapelima.Com, kata Dhanang, berawal dari kebutuhan akan informasi yang efisien dari masyarakat. "Kami menggunakan jasa operator internet untuk akses internet. Tapi itu dikembangkan oleh kami lewat manajemen jaringan, sehingga masyarakat yang lain bisa ikut mengakses internet," katanya.

Dia berharap ke depannya, masyarakat di sekitarnya tidak hanya mampu mengenal internet, tapi juga bisa mengembangkan layanan yang ada. Misalnya, belajar lewat dunia maya, membuat kartu tanda penduduk, dan kartu keluarga secara on-line.

"Kami juga ingin agar para petani di sini bisa memasarkan produknya secara on-line. Karena dengan jaringan yang ada, kita bisa juga menyaksikan siaran televisi, telepon, sampai mengirim pesan singkat dengan biaya yang lebih murah. Malah bisa gratis," katanya. [153]


Last modified: 28/12/07
Di posting oleh sugiono dari sumber Suara pembaharuan Daily

ISU PEMANASAN GLOBAL
Oleh Yattie Setiati

PENDAHULUAN
Conference of Parties Ke-13 United Nations Framework Convention on Climate Change (C0P 13, UNFCCC), 3-14 Desember 2007 di Denpasar, Bali, sudah selesai digelar. Rusaknya hutan diklaim seakan sebagai penyebab utama pemanasan global. Selalu diberitakan kebakaran hutan dan gambut yang ikut meningkatkan tinggi muka laut akibat naiknya suhu udara dan melelehnya es di Greenland dan Antartika.
Permasalahannya, sebagian terbesar hutan dunia kini dinilai telah rusak. Meskipun negara maju di Eropa dan Amerika Serikat sebagai pengemisi karbon terbesar dunia justru telah lama kehilangan hutannya, mata dunia hanya tertuju kepada hutan negara berkembang yang dijadikan tumpuan menyerap karbon buangan negara maju. Kerusakan hutan di negara berkembang, termasuk Indonesia, dipaksa ikut mempertanggungjawabkan meningkatnya pemanasan global.
Indonesia memang sempat mengalami kehilangan hutan yang cukup besar. Tahun 1970 terjadi kerusakan hutan seluas 300.000 hektar, meningkat menjadi 600.000 hektar per tahun (1981), dan menjadi 1 juta hektar per tahun pada tahun 1990. Data kerusakan hutan nasional tahun 1985-1997, tidak termasuk Papua, tercatat seluas rata-rata 1,6 juta hektar per tahun.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN PEMANASAN GLOBAL?
Pemanasan global ialah peristiwa naiknya intensitas Efek Rumah Kaca (ERK). ERK terjadi karena adanya gas dalam atmosfer yang menyerap sinar panas, yaitu sinar inframerah, yang dipancarkan oleh bumi. Gas itu disebut gas rumah kaca (GRK). Dengan penyerapan itu sinar panas terperangkap sehingga suhu permukaan bumi meningkat.
Istilah efek rumah kaca (greenhouse effect) berasal dari pengalaman petani di daerah iklim sedang. Dalam musim rontok, musim dingin dan musim semi, pada waktu suhu masih dingin, petani itu menanam sayuran dan bibit tanaman dalam rumah kaca. Pada siang hari pada waktu hari cerah suhu dalam rumah kaca itu lebih tinggi daripada di luar bangunan rumah kaca, walaupun alat pemanas tidak dinyalakan. Kenaikan suhu dalam rumah kaca itu disebut Efek Rumah Kaca. Kenaikan suhu itu disebabkan oleh terperangkapnya panas di dalam rumah kaca.. Jadi efek rumah kaca tidaklah berkaitan dengan dibangunnya banyak gedung yang berdinding kaca.

Seandainya tidak ada GRK dan karena itu tidak ada ERK, suhu permukaan bumi rata-rata akan hanya -18ºC saja, terlalu dingin bagi kehidupan mahluk hidup. Dengan adaya ERK suhu bumi adalah rata-rata 15ºC, seperti yang kita kenal. Jadi ERK sangat berguna bagi kehidupan di bumi. Pada akhir-akhir ini tercatat kadar GRK dalam atmosfer meningkat, yaitu gas CO2 dan beberapa gas lain. Dengan naiknya GRK dikhawatirkan intensitas ERK pun akan meningkat sehingga suhu permukaan bumi akan naik.

GRK dapat dihasilkan baik secara alamiah maupun dari hasil kegiatan manusia. Namun sebagian besar yang menyebabkan terjadi perubahan komposisi GRK di atmosfer adalah gas-gas buang yang teremisikan keangkasa sebagai “hasil sampingan” dari aktifitas manusia untuk membangun dalam memenuhi kebutuhan hidupnya selama ini. Dimulai sejak manusia menemukan teknologi industri pada abad 18, banyak menggunakan bahan bakar primer seperti minyak bumi, gas maupun batubara untuk menghasilkan energi yang diperlukan. Ternyata selain energi, dihasilkan pula gas-gas rumah kaca sebagai tambahan.

KENAIKAN SUHU UDARA
Emisi karbon sampai dengan tahun 2000-an yang meningkat menjadi sekitar 6,5 miliar ton hanya dalam waktu setengah abad menyebabkan kenaikan suhu rata-rata dunia sekitar 0,13 derajat Celsius setiap dekade.
Sumber-sumber emisi karbondioksida secara global dihasilkan dari pembakaran bahan
bakar fosil (minyak bumi dan batu bara):
- 36% dari industri energi (pembangkit listrik/kilang minyak, dll)
- 27% dari sektor transportasi
- 21% dari sektor industri
- 15% dari sektor rumah tangga & jasa
- 1% dari sektor lain -lain.

Meskipun tiga perempat bagian dari emisi karbon disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil, kerusakan hutan terutama disebabkan oleh penebangan yang berlebihan, kebakaran hutan, dan perubahan fungsi lahan hutan tetap dianggap memperparah terjadinya emisi karbon dunia.

KERUSAKAN HUTAN DI INDONESIA
Kerusakan hutan di Indonesia sudah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hal ini makin diperparah dengan terjadinya pembalakan liar dimana-mana, oleh orang/perusahaan yang tidak bertanggung jawab. Perbaikan hutan di Indonesia telah mulai dilakukan di lahan Perum Perhutani, perkembangan tutupan hutan khususnya di Pulau Jawa, baik di kawasan hutan negara maupun yang dilakukan rakyat di tanah milik, justru menggembirakan. Dari kawasan hutan seluas 2,426 juta hektar Pulau Jawa-Madura yang dikuasakan kepada Perum Perhutani, antara tahun 2000 dan tahun 2003 terjadi peningkatan luas tutupan hutannya.
Di kawasan hutan terjadi peningkatan tutupan hutan sebesar 2,2 persen atau seluas 69.520 hektar. Peningkatan itu di antaranya di kawasan hutan lindung meningkat 0,5 persen dan di hutan produksi sebesar 1,6 persen. Di lahan masyarakat terjadi peningkatan luas lahan berhutan sebesar 3,2 persen atau seluas 328.806 hektar. Hal ini menunjukkan perkembangan hutan rakyat yang cukup pesat selama kurun waktu tersebut.
Pencanangan Perhutani Hijau 2010 oleh Perum Perhutani pun berdampak besar. Dengan hanya menebang tidak lebih dari 6.000 hektar, Perum Perhutani menanam sekitar 121.000 hektar pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 akan dilakukan penanaman seluas 201.500 hektar. Sebelum tahun 2010, kawasan hutan Jawa yang dikelola Perum Perhutani akan bebas tanah kosong.

DAMPAK PEMANASAN GLOBAL
Pada tahun 2100, temperatur atmosfer akan meningkat 1.5 – 4.5 derajat Celcius, dampak yang akan terjadi antara lain :
- Musnahnya berbagai jenis keanekragaman hayati
- Meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan badai, angin topan, dan banjir
- Mencairnya es dan glasier di kutub
- Meningkatnya jumlah tanah kering yang potensial menjadi gurun karena kekeringan yang berkepanjangan
- Kenaikan permukaan laut hingga menyebabkan banjir yang luas. Pada tahun 2100 diperkirakan permukaan air laut naik hingga
15 - 95 cm.

- Kenaikan suhu air laut menyebabkan terjadinya pemutihan karang (coral bleaching) dan kerusakan terumbu karang di seluruh dunia
- Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan
- Menyebarnya penyakit-penyakit tropis, seperti malaria, ke daerah -daerah baru karena bertambahnya populasi serangga (nyamuk)
- Daerah-daerah tertentu menjadi padat dan sesak karena terjadi arus pengungsian.

USAHA UNTUK MENURUNKAN AKIBAT PEMANASAN GLOBAL

Usaha-usaha penurunan emisi GRK/ pemanasan global di berbagai sektor, antara lain :

Sektor energi:
- mengurangi subsidi bahan bakar fosil
- pajak karbon untuk bahan bakar fosil
- penetapan harga listrik dari energi terbarukan
- kewajiban menggunakan energi terbarukan
- subsidi bagi produsen

Sektor transportasi :
- kewajiban ekonomi bahan bakar, penggunaan biofuel, dan standar CO2 untuk alat transportasi jalan raya
- pajak untuk pembelian kendaraan, STNK, bahan bakar, serta tarif penggunaan jalan dan parkir
- merancang kebutuhan transportasi melalui regulasi penggunaan lahan serta perencanaan infrastruktur
- melakukan investasi pada fasilitas angkutan umum dan transportasi tak bermotor

Sektor pertanian:
Insentif finansial serta regulasi-regulasi untuk memperbaiki manajeman lahan, mempertahankan kandungan karbon di dalam tanah, penggunaan pupuk dan irigasi yang efisien

Sektor kehutanan:
Insentif finansial (nasional dan internasional) untuk memperluas area hutan, mengurangi kerusakan hutan, mempertahankan hutan, serta manajemen hutan
Regulasi pemanfaatan lahan serta penegakan regulasi tersebut

Sektor manajemen limbah:
- insentif finansial untuk manajeman sampah dan limbah cair yang lebih baik
- insentif atau kewajiban menggunakan energi terbarukan
- regulasi manajemen limbah

KESIMPULAN

- Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca (pemanasan global). Selayaknya
negara-negara maju lebih memahami potensi dirinya sebagai penyumbang utama terjadinya pemanasan global ( justru telah lama
kehilangan hutannya), untuk meningkatkan bantuan bagi pengembangan penghijauan hutan dan lahan negara berkembang,
khususnya Indonesia, yang dianggap mereka lalai menjaga kelestarian hutannya.

- Seluruh masyarakat dunia harus turut berpartisipasi untuk mengurangi terjadinya pemanasan global, dalam setiap kegiatannya.

DAFTAR BACAAN

1. Hadimuljono, Basuki, 2007, Pemanasan dan Perubahan Iklim Global Serta Dampaknya Terhadap Sumber Daya Air, Jakarta, KIPNAS
IX.
2. Haneda, 2004, Hubungan Efek Rumah Kaca Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, down load, 10-12-2007
3. http://www.pelangi.or.id, Kebijakan tak berubah, pemanasan global meningkat, download, 11-12-2007
4. Soemarwoto, Otto, 1997, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Jakarta: Djambatan.
5. Tanya Jawab Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, download, 7-12-2007

Diedit dan diposting Oleh : Sugiono

Sabtu, 01 Desember 2007

Tumbuh Subur Media Komunitas.

Dengan kebebasan berkomunikasi, siapa saja sekarang ini bisamelaporkan apa saja , yang dinginkan, dari yang dilihat, apakah itu opini, reportase sampai masalah privacy atau curhat, semua ini dapat disebarkan kepada yang lain. Kondisi ini jelas memunculkan nuansa kultural dan peta sosial, dan menjadi base perluasan tumbuh suburnya peluang dari segala sisi apakah itu ekonomi, pegiat-pegiat komunikasi.Kondisi ini juga muncul pesaing atau sebagai kompetitor sesama media, karena dihadapkan pada media pasar bebas. Kecenderungan pada tatanan persaingan global, seperti maraknya open source reporting, juga para blogger yang meramaikan berbagai isue.

Dengan kebebasan ini tidak bisa tidak, isue moralitas selalu menghantui wacana komunikasi yang sedang dibangun. Karena ruang media sudah terjajal oleh hukum bisnis, sepertinya berevolusi, saling mengarahkan pada karakter dan penyesuaian diri dengan gaya hidup yang semakin beragam, dan tak pernah tenggelam

Situasi yang begitu menakutkan kalau konsumen / user sudah tidak lagi membutuhkan produsen, banyak pabrik yang gulung tikar. Karena mainstream media menyatu dengan media Community Acsess Point (CAP), melalui internet masyarakat (RT/RW Net). Sebagai Apresiasi individu atau masyarakat pegiat komunikasi juga pembisnis dengan mudah mendapatkan informasi dengan kemasan maupun isi dari pasar media. Para pelaku komunikasi atau pegiat media dituntut tidak "gaptek" karena teknologi komunikasi terus berkembang pesat.

Bagaimanapun sangat bijaksana jika kita membangun hubungan jangka panjang dengan media. Tidak hanya untuk sesaat saja. Terutama berhadapan pada fungsi Public Relation (P.R) dimanapun kegiatannya selalu erat dengan media, akan menjadi alat efektif terutama dalam marketing mix. Jelas tanpa P.R penerapan konsep marketing mix akan pincang dalam kelembagaan atau organisasi. Dengan bahasa klasik akan meningkatkan citra kelembagaan, terutama masyarakat peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan meningkatkan kualitas partisipasi public untuk kepentingan Negara tercinta ini.

Oleh Nanan Sumarna.
Diposting oleh Ir.Sugiono

Jumat, 23 November 2007

PROTOTYPE MOBIL BERBAHAN BAKAR AIR BUATAN ISRAEL
Memproduksi Hidrogen di dalam Mobil Baru-baru ini, para peneliti kembali mengembangkan sebuah sistem unik yang dapat memproduksi hidrogen menggunakan logam yang mudah ditemukan, magnesium dan aluminium. Seng murni sudah lebih dulu dikembangkan untuk memisahkan hidrogen dari air dengan mengikat atom oksigen.Teknologi yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan Israel tersebut dapat mengatasi berbagai hambatan yang berhubungan dengan proses produksi, distribusi, dan penyimpanan hidrogen. Jika suatu saat dilempar ke pasaran, mobil yang memakai sistem tersebut dapat dijual dengan harga yang relatif sama dibandingkan mobil yang ada sekarang.Satu kelebihannya adalah bebas emisi gas buang.
Prototype Mobil berbahan bakar air buatan Perusahaan Israel didasari oleh semakin menipisnya cadangan minyak dunia yang menyebabkan naiknya harga, sehingga menyebabkan banyak pihak berusaha mencari sumber bahan bakar alternatif sebagai sumber energi di sektor otomotif. Sebelumnya, peneliti Israel dari Weizzmann Istitute menawarkan teknologi pemrosesan seng murni untuk menghasilkan hidrogen dari air menggunakan energi matahari yang murah.
Solusi berbeda inilah yang dikembangkan sebuah perusahaan Israel Engineuity berupa sistem yang ditanam di dalam mobil. Amnon Yogev, salah satu pendirinya, adalah profesor dari Weizzmann Institute. Ia menunjukkan bahwa metode tersebut dapat digunakan untuk memproduksi hidrogen secara kontinyu dan uap bertekanan konstan yang dibutuhkan mobil.
Metode ini juga dapat digunakan untuk menghasilkan hidrogen untuk fuel cell dan berbagai aplikasi lain yang membutuhkan hidrogen dan uap.
Mobil hidrogen yang dikembangkan Engineuity menggunakan logam magnesium dan aluminium dalam bentuk gulungan kawat panjang. Tanki gas di dalam mobil biasa akan diganti dengan piranti yang disebut pembakar logam dan uap (metal-steam combustor) yang akan memisahkan hidrogen dari air. Gagasan utama di balik teknologi ini begitu sederhana. Ujung gulungan logam dimasukkan ke dalam pembakar bersama-sama dengan air yang kemudian akan dibakar pada suhu tinggi. Atom logam akan mengikat oksigen dari air menghasilkan oksida logam. dengan demikian, molekul hidrogen bebas dan dikirim ke dalam mesin.Tentu saja sistem tersebut dilengkapi mekanisme penggulung kawat logam selama proses produksi bahan bakar. Selain itu, tersedia juga pengisap oksida logam yang akan mengumpulkannya ke dalam tabung. Oksida logam sebagai produk sampingan kemudian dikumpulkan dalam stasiun bahan bakar dan dapat didaur ulang untuk keperluan industri logam. Sistem yang dikembangkan ini lebih efisien dibandingkan solusi pemrosesan hidrogen lainnya. Uap panas yang dihasilkan dapat digunakan sehingga kinerjanya setangguh mobil konvensional. Hanya saja, mobil harus menanggung berat yang lebih besar agar bahan bakar yang digunakan dapat dipakai untuk jarak yang jauh. Agar mampu mencapai jarak yang sama dengan mobil berbahan bakar fosil, dibutuhkan gulungan kawat logam dengan berat tiga kali lipat lebih besar daripada tangki minyak. Sampai sekarang Engineuity mendapat program inkubasi dari Kepala Ilmuwan di Israel dan sedang mencari investor yang berminat untuk mendanai pengembangan prototipnya. Dari proposal yang disusun, kira-kira butuh tiga tahun untuk mengembangkan prototip tersebut. Karena tidak terlalu banyak modifikasi pada mesin, pembuatannya dapat dibuat dengan proses produksi yang dipakai industri otomotif sekarang. Dengan tidak perlu banyak tambahan investasi infrastruktur baru, harga jualnya diperkirakan dapat dipertahankan agar tidak jauh berbeda dengan mobil konvensional.Meskipun demikian, Engineuity tidak hanya akan memodifikasi mobil yang sudah ada tapi merencanakan juga untuk mendesain model mobil yang baru.
Dikutip Oleh Sugiono sumber dari Kompas

Selasa, 18 September 2007

MANFAAT IPTEK
ORANG AWAM BERKATA TEKNOLOGI YANG BERMANFAAT
BUAT KEMASLAHATAN UMAT

Kemajuan teknologi bukan berarti semuanya bermanfaat buat umat manusia, bila tidak dibarengi dengan keimanan, teknologi yang bagaimana dapat bermanfaat bagi umat. Pertanyaan seperti ini sering tercetus bagi para ilmuwan yang ingin membuat umat manusia sejahtera, tapi bagi ilmuwan lainnya yang terkadang muncul gagasan jahat, bagaimana caranya dapat menghancurkan umat demi kepentingan pribadi atau golongan, tanpa berpikir bahwa Allah Swt, menciptakan bumi dan langit ini hanya untuk dijaga dari kerusakan, dan dimanfaat sebaik mungkin untuk kemaslahatan sebagai sarana untuk beribadah pada yang Maha Pencita, Maha Mengetahui, Maha Menghitung. Dalam surat zalzala Allah berifirman “ Fama ya’mal mistqoo la dzarrotin khoeron yaroh, wamaya’mal mistqoo la dzarrotin syarron yaroh” amalan seseorang untuk kebaikan walapun sebesar atom (nuklir) akan Allah balas dengan yang lebih baik, tetapi sebaliknya bila perbuatan orang untuk kebatilan walaupun sebesar atom (nuklir) akan dibalas oleh Allah dalam bentuk adzab (lebih besar)”

Beberapa peristiwa sejak meletusnya Perang Dunia I dan II, berbagai teknologi telah diciptakan oleh manusia, tetapi sifatnya untuk membuat seuatu kehancuran umat. Contoh yang kita kenal dengan peristiwa dijatuhkannya bom atom di Nagasaki dan hirosima, betapa kehancuran itu melanda umat bangsa Jepang yang sedemikian kental adat istiadat ketimuran, kehancuran itu membuat Jepang bangkit dari dunia perang menjadi dunia damai, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi modern, sehingga Jepang dapat berdiri kokoh dan termasuk Negara yang disegani akan perkembangan teknologinya oleh dunia Barat.

Peristiwa terjadinya pembumi hangusuan Nagasaki dan Hirosima oleh Negara yang mengaku sebagai Negara Super Power, tidak membuat Jepang mandul dari pemanfaatan teknologi apapun termasuk teknologi Nuklir, baik itu bidang energi, kesehatan atau industri serta pertanian. Dari niat baik untuk menggali potensi energi yang membutuhkan jumlah sedikit, tetapi menghasilkan energi yang cukup besar dibandingkan dengan harus menggali sumber minyak bumi, atau batu bara. Dan yang patut dikagumi Negara tersebut hamparan daratannya tidak lepas dari potensi bencana gempa bumi, karena buminya mengandung resiko gunung aktif.
Mengapa Jepang berani memanfaatan teknologi Nuklir, karena bangsa Jepang yang terkenal dengan budayanya, dan tidak cengeng, dan sudah tahu bahwa teknologi apapun bila disalah gunakan membuat Negara akan hancur dan dia lebih paham akan ayat-ayat Allah Swt, yang sudah tersurat di dalam Al Qur’an (Subachanallah), tetapi bangsa kita yang sebagian umatnya menganut ajaran Islam, malah tidak memahami, bahkan berprinsip lebih baik mengali kekayaan alam seperti minyak bumi, batu bara, yang akan membuat dampak negative lebih besar dari pada dampak positifnya. Penggalian minyak bumi misalnya sebesar mungkin yang dijadikan sumber penghasilan Negara kita, mengapa harga bahan bakar tidak pernah turun bahkan cenderung bertambah mahal dan langka. Masyarakat pengguna minyak tanah saat ini sering menjerit karena kesulitan untuk memperoleh apa yang ia butuhkan hanya untuk keperluan memasak, belum lagi seandainya menyak itu ada harganyapun cukup tinggi. Karena minyak tanah jumlahnya terbatas, maka pemerintah berusaha mengalihkan dengan pemanfaatan teknologi LPG, berapa barel kandungan gas alam yang terkandung di dalam perut bumi ini, pertanyaannya akankah tersedia pada masa yang cukup panjang, atau nanti kita harus impor dari Negara lain.

Bangsa kita terlalu dinina bobokan oleh bangsa lain dengan nyanyian dan dongeng yang sugguh sangat mempengaruhi rasa kedewasaan dan kemandirian, mengakibatkan bangsa ini lebih banyak tertidur lelap dipangkuan ibu pertiwi. Rumah dimasuki penjarahpun sampai tidak tahu, coba hitung berapa kekayaan kita yang sudah berpindah tangan dan diboyong kenegara lain. Terutama para tenaga ahli kita yang disekolahkan ke luar, setelah selesai enggan pulang ke negeri yang terkenal makmur loh jinawi, aman tentrem, tata raharja. Dibalik itu sebagian anak bangsa juga masih banyak yang peduli, ini terbukti dengan kemajuan hasil teknologi yang berkaitan dengan ketahanan pangan bidang pertanian dan peternakan. Hasil litbang iptek nuklir berkembang cukup baik karena sudah menghasilkan 14 varietas padi Pemanfaatan hasil Teknologi Nuklir, yang sekarang dikenal yaitu padi varietas

Diah suci, Mira-1 di daerah Jawa Barat Kabupaten Bandung (Ciparay, Solokan Jeruk, Bojong Malaka dan sekitarnya), Kabupaten Subang (Pamanukan, Pusaka Negara, Patok Beusi dan sekitarnya), Kabupaten Karawang, Kab. Purwakarta, Kab. Cianjur, Kab. Cirebon, Kab. Ciamis, Kab. Garut. Selain itu di daerah Jawa Timur: Kab. Blitar, Malang, Nganjuk, Trenggalek, Tulungagung. Daerah Jawa Tengah Kab. Solo, Kab. Klaten, Kab. Brebes dll. Dan masih banyak daerah lainnya yang menanam padi hasil dari litbang iptek nuklir. Demikian pula bidang peternakan, untuk mangatasi kesulitan pakan dan untuk dapat mempercepat penggemukan berat badan, jumlah produksi susu peternak juga sudah merasakan hasil litbang iptek nuklir berupa suplemen pakan ternak, atau pakan ternak siap santap.
Mengapa kita anti Nuklir, kalau betul-betul kita rasakan bahwa nuklir itu lebih besar manfaatnya dari modaratnya.

Semoga kita segera lekas bangun dari tidur, dan segera gosok gigi, mandi pakai sabun wangi, berangkat mengaji dan mengkaji dengan kepala dingin dengan tidak menyalahi aturan Allah Swt.

Bandung, 18 September 2007
DHARSONO H.R.
Alamat Kantor: PTNBR – BATAN Jalan Tamansari 71 Bandung
Alamat Rumah : Komp. Guruminda D-23, Bandung, 40293
Jabatan : Pranata Humas Muda

Dipublikasikan oleh Sugiono